Jumat, 12 Februari 2010

Cara Mewujudkan Keluarga Bahagia.

Keharmonisan keluarga adalah dambaan setiap manusia. Dalam sebuah perkawinan hubungan suami istri yang hanya menitik beratkan pada "cinta" dan "pemenuhan kebutuhan biologis" tidaklah cukup untuk membina dan membangun keluarga yang harmonis. Cinta dan kepuasan biologis mungkin menyenangkan diawal perkawinan tapi hal ini tidak berlangsung lama jika kedua belah pihak tidak saling beintegrasi dan berinteraksi.
Dua orang Profesor dari US yaitu Prof.Nick Stinnet dan Prof. John Defrain dalam studi yang berjudul "The National Study on Family Strenght" mengemukakan enam hal sebagai pegangan mehuju perkawinan atau keluarga yang bahagia, dalam bahasa kita yaitu mewujudkan keluarga sakinah ma wadah warahmah..
1. Ciptakan kehidupan beragama dalam keluarga.
Tidak bisa kita pungkiri bahwa agama adalah pengikat yang kuat dalam kehidupan manusia. Sebuah perkawinan dan keluarga jika tidak diikat dengan nilai-nilai moral atau ketuhanan akan mudah rapuh. Nafsu dan ego pribadi akan menjadi salah penyebab pecahnya hubungan keluarga jika tidak diatur dalam aturan agama.Faktanya,keluarga yang tidak religious, yang komitmen agama nya lemah atau bahkan tidak ada sama sekali mempunyai resiko empat kali untuk tidak bahagia dalam keluarganya.
2. Waktu bersama keluarga.
Setiap anggota keluarga harus mempunyai komitmen untuk meluangkan waktu untuk keluarga. Misalnya dengan makan malam yang harus diikuti semua anggota keluarga atau bepergian bersama untuk berwisata. Ini lebih ke soal manajemen waktu.
3. Komunikasi yang baik.
Setiap anggotota keluarga harus menciptakan hubungan yang baik antar keluarga. Disini faktor komunikasi sangatlah penting. Suami harus komunikatif, begitu juga istri. Banyak kasus pertengkaran hanya karena masalah kurang adanya komunikasi ini.
4. Harus saling menghargai.
Seorang Suami harus menghargai istri sebagai ibu rumah tangga, begitu juga istri menghargai suami sebagai pencari nafkah dan kepala keluarga. Berilah pujian dan ucapan terima kasih untuk hal-hal yang sudah dilakukan. Misalnya disaat istri harus banyak melakukan tugas rumah tangga sang suami bisa mengatakan "terima kasih ya mi untuk semua pengorbanan mami" atau disaat suami capek pulang kerja istri bisa berkata "papi capek kerja ya,sini mami pijitin". hal ini juga berlaku untuk anak. Ketika anak atau adik kita dapat nilai kurang bagus disekolah jangan dibilang "bodoh kamu,dulu bapak/ibu/kakak bisa dapat sepuluh!",perkataan semacam ini malah akan membunuh semangat anak/adek kita. Berilah semangat dan dukungan untuk lebih giat belajar. Sebgai anak juga kita harus mengapresiasi perjuangan bapak dan ibu kita. Pernahkah kita bilang ke ibu kita "Bu,terima kasih ya untuk semua kasih sayang ibu" bahkan untuk hal-hal yang kecil "Bu,memang ibu jago masak,masakan ibu enak sekali" dan kepada ayah kita "Yah makasih ya sudah susah payah menyekolahkan/menguliahkan saya".
Jadi saling menghargai dengan memujin dan berterima kasih adalah salah satu faktor pengikat keharmonisan keluargan.
5. Harus ada ikatan yang kuat.
Harus ada perasaan saling memiliki dan menyayangi, kepedulian terhadap keluarga, jangan hanya waktu sakit saja. Jangan lu-lu,gw-gw. Keluarga harus saling terikat. Longgarnya ikatan ini akan menyebabkan banyak masalah dikemudian hari. Hal ini juga menjadi kecenderungan keluarga di era modernisasi ini.
6. Akan selalu ada masalah,tapi prioritas utama adalah keutuhan keluarga.
Sangat tidak mungkin suatu hubungan keluarga mulus dan lurus saja. pasti bakal ada perbedaan pendapat dan perdebatan,tapi yang harus diingat adalah seberat apapun krisis itu,keutuhan keluarga harus diutamakan. Jangan sedikit masalah minta cerai, anak punya masalah terus kabur dari rumah, atau orangtua yang dengan gampang mengusir anak.

Semoga bermanfaat.

Kamis, 11 Februari 2010

Sudah Bahagiakah Bangsa Kita?

Sebagian besar dari kita mungkin sudah tahu bahwa belum lama ini menurut sebuah survey bahwa Denmark adalah negara paling bahagia mengungguli negara-negara kayak yang lain.
Sumber :
www.cnn.com/2008/HEALTH/07/02/nations.happiness/index.html
Sementara menurut survey dari Happy Planet tahun 2009 negara paling bahagia adalah Kostarika.Lagi-lagi bukan merupakan negara-negara kaya.
Sumber:
www.en.wikipedia.org/wiki/Happy_Planet_Index
Pertanyaanya mengapa hal ini bisa terjadi?
Saya mau berbagi artikel menarik soal ini.Tetapi analisis disini membahas mengapa Denmark bisa menjadi negara terbahagia didunia.
1.Kepribadian dan filosofi hidup
-Rasa bersyukur
Orang Denmark mudah bersyukur,menikmati hidup tanpa perlu bermewah-mewah dan tak perlu merasa diperbudak kesuksesan.Ada beberapa alasan yang mendasari hal ini adalah pendidikan dan kesehatan gratis,hari tua terjamin dan filosofi hidup yang tidak perlu ngoyo.
-Ekspektasi hidup yang rendah.
Hal ini berarti kesuksesan kecil saja sudah membuat mereka bahagia dan apabila gagal mereka mawsih berbesar hati untuk bangkit lagi.Hal ini menjadikan tingkat stress hidup yang rendah.
2.Paradoks N-Ach
Kebutuhan untuk berprestasi ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kebahagian.Hal ini terjadi karena tidak ada batas tertinggi buat kepuasan.For human enough is never enough!!coba kita lihat daftar rangking negara-negara kaya yang lain :
23.Amerika
90.Jepang
dimanakah kita ?
64.Indonesia
bahkan menurut Happy Planet Index:
76.Jepang
114.Amerika Serikat
Hal ini bisa terjadi karena semakin tinggi ekspektasi suatu bangsa maka akan semakin sering tidak puas dan menjadi kurang bahagia.Bahkan negara-negara kecil dan tidak terlalu kaya malah masuk dalam rangking atas menurut HPI:
1.Costa Rica
2.Dominican Republic
3.Jamaica
4.Guatemala
dimanakah kita?
16.Indonesia
Mengapa?Kepuasan subyektif terhadap pendidikan,kesehatan,kekayaan relatif dan tingkat pengharapan hidup menjadi tolak ukur kebahagiaan.Variabel ini yang dipakai oleh WHO,UNESCO dan New Economic Foundation untuk mengukur tingkat kebahagian.
3.So what?
-Orang bisa membeli ranjang emas tapi bukan tidur
-Orang bisa membeli seks bukan cinta
-Orang bisa membeli obat bukan kesehatan
Intinya jangan terjebak bahwa segala sesuatu bisa dibeli dengan uang dan memakai ukuran materi.Kekayaan negara bukan segala-galanya.Tapi memang setidak-tidaknya untuk seperti Denmark pemerintah kita harus memeberikan jaminan pendidikan,kesehatan dan hari tua.Dan yang lebih penting merubah filosofi kehidupan mulai dari sekolah dasar tentang hakekat kehidupan bahwa uang bukanlah segalanya dan memjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan.



Rabu, 10 Februari 2010

Kenapa Harus Pacaran?

Based on sebuah forum yang saya ikuti dibagian forum curhat saya liat sebagian besar thread yang dibuat adalah tentang masalah jomblo, keluhan tentang single dan sejenisnya. Dari situ ada beberapa hal yang bisa saya simpulkan.Pertama,jomblo alias single seperti sebuah masalah besar yang menyita hidup kita,terlebih kemaren malam minggu disaat banyak pasangan menghabiskan waktu berdua.Kedua,apakah dengan pacaran kita bisa terjamin dan tidak akan kesepian lagi dan setidaknya lebih bahagia?
Sedikit fakta :
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Universite de Montreal,University Hospital Center dan McGill University menemukan anak remaja yang mulai pacaran sejak dini lebih banyak mengalami sakit kepala,perut dan pinggang.Mereka juga dilaporkan lebih banyak mengalami depresi dibanding rekan usianya yang belum pernah pacaran.Dari kuesioner yang diisi oleh remaja berusia 12-17 tahun di Kanada ditemukan seorang yang mengenal cinta lebih dini cenderung menjadi pribadi yang rapuh,sakit-sakitan dan merasa tidak aman dan mudah depresi.Gejala itu berkembang dari masa remaja dan ketika dewasa.Mengapa hal ini terjadi?Seorang yang menjalani hubungan sejak dini akan memiliki alarm rasa sakit yang tinggi,terutama jika hubungan itu buruk.Sementara mereka yang belum menjalin cinta bisa lebih ekspresif dan lebih banyak bersosialisasi dengn temannya tanpa harus sedih dan mengalami depresi.
sumber : http://www.sciencedaily.com/
Pertanyaanya : Mengapa jika kita tidak berpacaran seperti akan mengalami kesepian?menurut saya ini dikarenak mind set kita yang sudah terpola seperti itu.Profokasi dari media yang menggambarkan bahwa pacaran akan membuat hidup kita lebih senang dan bebas kesepian membuat kita merasa tanpa pacar hidup kita kurang berarti.Hal itu menutupi fakta yang ada bahwa banyak hal yang bisa kita lakukan tanpa harus pacaran?
1. Jika kita masih sekolah atau kuliah,single berarti kesempatan untuk mempelajari apapun yang kita mau.melakukan hal-hal baru dan berkesplorasi. Belajar apapun yang kita mau. Internet adalah gudang ilmu,dari ilmu politik,komputer bahkan sampai forum supranatural bisa kita pelajari disini. Yang suka musik atau olahraga bisa melakukan itu tanpa harus diselingi dengan kesedihan dan sakit hati. Kita bisa berteman dengn siapapun,kita bisa banyak belajar dari mereka.Kita bisa saling share dan membantu tanpa resiko menyakiti dan disakiti. Universitas kehidupan tidak pernah tertutup untuk kita belajar apapun.Jadilah seorang pembelajar sejati.Fokuslah untuk membahagiakan ortu dengan belajar keras,buatlah mereka bangga dengan apa yang kita perbuat.
2. Jika kita sudah bekerja,sudahkah kita menyisakan uang hasil kerja kita untuk orang tua kita?menyenangkan hati mereka dengan memberi hadiah,surprise atau apapun yang mereka mau.Kita bahkan dengan rela hati mengeluarkan banyak uang untuk pasangan kita,apakah hal yang sama bisa kita lakukan untuk ortu dan keluarga kita?mereka punya hak yang lebih besar untuk itu.Jika kita sudah menikah kita ga akan sebebas seperti di saat kita single.
So,jomblo alias single berarti banyak buat kita,berarti kesempatan buat kita melakukan pengembangan diri,kesempatan buat kita membahagiakan ortu dan keluarga kita.
Sebuah pertanyaan yang sering muncul :
kalo tidak dengan pacaran,bagaimana kita akan belajar memahami pasangan dan bertambah dewasa?
Jawab : Belajarlah dari kehidupan,belajarlah memahami dan berkorban dengan keluarga kita, belajarlah psikologi yang buku nya banyak ada dimana-mana,belajarlah bahkan dari pengalaman terburuk sekalipun. Kita diberi kebebasan,akal,nafsu dan hati.Sesuatu yang bahkan tuhan tidak beri pada malaikat sekalipun.
Waktu hilang tak akan terganti, mari jadikan hidup lebih berarti...



Kamis, 28 Januari 2010

Menulis Itu Obat..

Dari buku Quantum writing karangan Harnowo, ada beberapa hal yang sangat berkesan menurut saya. Salah satunya adalah bagaimana menulis itu bisa menjadi obat dan bahkan membuat si penulis menjadi sehat dan menambah kekebalan tubuh. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr.Pennebaker, seorang psikolog dari Amerika. Manfaat menulis menurut Dr. Pennebaker adalah :
1. Menulis menjernihkan pikiran.
Disaat kita mengalami banyak masalah dan beban yang kita rasa berat, menulis merupakan salah satu cara untuk mengurai masalah itu sehingga kita bisa dengan jernih melihat masalah itu. Berpikir keras tentang masalah itu dan mengeluh ternyata tidak cukup meringankan beban kita. Saya sendiri sangat merasakan manfaat dari menulis ini. Dulu sewaktu SMA saya kost sendiri dan jauh dari teman-teman, sering saya merasa sedih dan kesepian terlebih dimalam hari. Untuk menghabiskan waktu penulis mencoba untuk menulis puisi atau syair setiap malam, ternyata hal itu sangat membantu penulis untuk bisa melewati hari-hari hampir selama satu tahun. Walaupun tulisan saya tidak pernah saya publikasikan sampai sekarang tetapi setidaknya menulis telah membuat saya jauh lebih jernih dan tegar ketika menghadapi situasi yang tidak mengenakkan. Dengan menulis maslah-masalah yang kita hadapi setidaknya kita bisa dengan jelas menganalisa apa sebenarnya masalah yang kita hadapai itu dan mencoba membuat solusinya. Apakah itu benar-benar masalah atau hanya permainan pikiran kita saja.
2. Menulis mengatasi trauma.
Menurut Dr. Pennebaker mereka yang menuliskan trauma bahkan bila itu trauma terburuk sekalipun ternyata akan lebih mudah melupakan atau setidaknya mengatasi maslah trauma tersebut. Memang dalam jangka pendek setelah kita menulis hal-hal yang menjadi trauma kita hal itu akan membuat kita teringat dengan trauma kita dan membuat kita jatuh ke dalam kesedihan atau trauma yang lebih dalam. Mungkin alasan inilah yang banyak membuat orang malas atau enggan menuliskan tentang trauma, mereka hanya mencoba melupakan dengan beralih kepada hal-hal lain. Hal ini seperti lari dari masalah dan tidak menyelesaikan trauma itu. Menurut penelitian itu, kesedihan paska penulisan trauma itu hanya berlangsung beberapa hari saja. Dalam jangka panjang mereka yang telah menulis pengalaman traumatisnya ternyata jauh lebih tegar dan mengelola trauma mereka.
3. Menulis membantu mendapatkan dan mengingat informasi.
Hal ini jelas sekali. Seperti kata Sayidina Ali "ikatlah ilmu dengan menuliskannya". Mereka yang belajar hanya dengan membaca saja tentu jauh berbeda dengan mereka yang belajar dengan membaca kemudian menuliskannya. Bahkan menurut penelitian dalam pelajaran matematika, para siswa yang menulis rumus dan mencoba mengerjakannya jauh lebih bisa mengingat daripada mereka yang hanya mencoba menghafal.
4. Menulis membantu memecahkan masalah.
Dengan menuliskan masalah kita, kita akan dengan mudah membuat list dan daftar masalah kita. Kita bisa memilahkan mana maslah yang paling urgent dan penting sampai masalah remeh temeh yang tidak terlalu penting. Dari situ kita bisa membuat yang solusi dan tepat untuk menyelesaikan maslah itu. Penyelesaian masalah dengan menulis merupakan salah satu cara yang efektif yang saya sendiri merasakan manfaatnya.
5. Menulis-bebas membantu kita ketika kita terpaksa harus menulis.
Contoh yang saya alami sendiri adalah ketika harus membuat skripsi sebagai syarat kelulusan. Karena saya dulu tidak terlalu aktif menulis maka menulis skripsi yang tebalnya bisa sampai puluhan atau ratusan halaman bisa menjadi sangat berat. Saya juga perhatikan dimana-mana sampai sekarang ini penulisan skripsi masih menjadi momok buat mahasiswa. Hal ini bisa dikarenakan sistem pendidikan kita yang kurang menumbuhkembangkan menulis sebagai salah satu kemampuan yang harus dimiliki siswa. Menulis masih dianggap sebagi beban yang berat buat para siswa dan dilakukan ketika ada tugas saja. Hal inilah yang harus dirubah, mencintai membaca dan menulis harus ditumbuhkembangkan sejak usia dini. Insya Allah dengan begitu generasi berilmu yang pandai membaca dan menulis benar-benar bisa terwujud di negeri yang kita cintai ini.

Selasa, 26 Januari 2010

Tipe-tipe Mahasiswa

Tadi malam ketika saya membaca buku tentang menulis, tiba-tiba saya teringat dengan perkataan dosen saya tentang tipe-tipe mahasiswa ketika saya kuliah dulu. Beliau berkata bahwa ada 4 tipe mahasiswa :
1. Mahasiswa pandai menulis dan pandai berbicara
2. Mahasiswa pandai menulis tetapi tidak pandai berbicara
3. Mahasiswa pandai berbicara tetapi tidak pandai menulis
4. Mahasiswa tidak pandai menulis dan tidak pandai berbicara
Sontak waktu itu kami tertawa mendengar penjelasan beliau. Mau tidak mau kamu harus mengakui bahwa tipe mahasiswa model ke 4 itulah yang banyak dipasaran. Ironis memang tapi itulah kenyataannya. Paling tidak itulah yang terjadi dari pengamatan penulis semasa kuliah. Saya sendiri menyadari betapa kepandaian menulis dan berbicara yang seharusnya merupakan skill dasar yang seharusnya dimiliki mahasiswa tetapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Skripsi yang notabene merupakan tugas menulis yang menentukan kelulusan mahasiswa menjadi momok yang menakutkan. Sudah menjadi rahasia umum dikalangan mahasiswa yang biasanya lama ketika mengerjakan skripsi. Memang tidak semua karena malas menulis, tentu ada faktor-faktor lain yang menyebabkan mengapa skripsi bisa begitu lama. Bahkan setelah beberapa kampus meniadakan skripsi sebagai penentu kelulusan beberapa teman saya menjadi iri dan bahkan ada yang kemudian pindah ke kampus tersebut hanya karena menghindari skripsi. Ini kenyataan. Saya sendiri Alhamdulillah hanya mengerjakan skripsi dalam waktu satu semester.
Lalu apakah yang mendasari mengapa menulis dan berbicara-tentu yang dimaksud disini adalah berbicara didepan umum dan dalam konteks formal-menjadi sedemikian menakutkan? tentu hal ini tidak datang begitu saja, ada yang salah dengan pendidikan kita. Mahasiswa yang tidak pandai menulis dan berbicara an sich tidak bisa begitu saja disalahkan. Ada faktor-faktor eksternal yang ikut berperan membentuk kepribadian mahasiswa sehingga sagala hal yang berkaitan dengan menulis dan berbicara menjadi hal yang tidak menarik. dan hal ini diawali dari pendidikan diusia dini yaitu di Sekolah Dasar. Pembentukan karakter yang tepat di SD akan berpengaruh kepada para siswa dalam menapaki jenjang pendidikan selanjutnya, begitu juga kesalahan atau mungkin ketidaktepatan proses pembelajaran di SD akan berpengaruh juga dalam pembentukan kepribadian yang tidak tepat di jenjang selanjutnya.


Foto-foto Fenomena Alam

Tornado setinggi 4000 kaki didaerah Kansas, US.

Kepulauan Georgia Selatan.Pagi yang bersalju memberikan sebuah pelajaran kontras saat anjing laut dan penguin berbagi lahan. Musim semi antlantik membawa sekitar 400.000 dari kedua spesies ini ke lokasi yang terpencil dari wilayah Inggris ini
Ada dua dunia di Selat Dampier, Raja Ampat, Papua, Indonesia. Di bawah langit penuh mega, nelayan bekerja di atas perahu mayang. Sementara di bawah permukaan air laut yang tenang, ikan-ikan teri berkelebat dengan tubuh berkilauan.
Matahari terbit menyinari gerobak sapi, di sepanjang jalan Baobab. Pohon terbalik (Adansonia grandidieri) setinggi sekitar 24 meter di daerah Menabe, Madagaskar.
Gajah jantan yang sedang sarapan di dekat tebing curam Victoria Falls, Zambia, Afrika.




Pengantar, Mengapa Sosiologi?

Dulu ketika awal masuk kuliah, hampir saya tidak berpikir terlalu panjang tentang mengapa saya mengambil jurusan sosiologi selain karena passing grade yang masuk akal untuk kemampuan dan karena memang saya menyukai pelajaran sosiologi dikala duduk di bangku SMA.
Bertahun-tahun saya kuliah - walaupun sebenarnya jarang kuliah - diakhir kuliah dimasa penyusunan skripsi barulah saya akhirnya menikmati belajar tentang sosiologi. Ternyata buat saya butuh waktu bertahun-tahun untuk "ngeh" dan kembali menemukan kesadaran tentang betapa kompleks dan menyenangkan belajar tentang sosiologi.
Akhirnya setelah saya resmi lulus dari jurusan sosiologi dan harus berhadapan dengan kenyataan didunia kerja, saya menemukan bahwa sosiologi benar-benar jurusan yang spesial dan bahkan karena saking spesialnya sampai lowongan yang khusus untuk jurusan sosiologi sangatlah jarang. Mungkin karena sosiologi adalah ilmu yang gampang dipelajari atau karena kebiasaan atau kultur di birokrasi kita yang lebih menganggap mereka yang dari jurusan eksak jauh lebih jago dalam pengambilan keputusan bahkan dibidang kebijakan publik yang notabene butuh perhitungan yang tidak matematis karena masyarakat bukanlah robot yang bisa diukur melalui ilmu pasti. Tapi sekali lagi ini pendapat saya dan tentu sangat subyektif. Bisa jadi ini merupakan keluh kesah saya sebagai lulusan sosiologi yang sampai saya menulis ini masih berpredikat sebagai pengacara,hehe. Bagaimanapun juga saya tidak menyesali keputusan saya untuk kulaih di sosiologi dan tentu saja saya sangat bersyukur karena diakui apa tidak sosiologi telah membentuk pola pikir dan pandangan saya sampai sekarang. Insya Allah dilain tempat saya akan berbagi tentang apa saya yang telah saya pelajari sekian lama dijurusan sosiologi.